Maaf Sy mau meluruskan sedikit, silahkan anda buka Lontara Bone? Adakah yang melarang kalo saya bilang Sulatan Hasanuddin berhak bertahta di Kerajaan Bone, karena ibunya Sultan cucunya Arumpone?
Baku apai Sultan dengan Latenritatta Aru Palakka?
Baku apaki Karaeng Karungrung dengan Aru Palakka?
Kenapa setelah meninggalkan Gowa Aru Palakka Lari ke Buton trus ke Batavia tidak ke Bone?
Kalau dibilang Aru palakka Berhianat, Berhianat kepada Siapa? siapa yang di hianati di To’dang, waktu itukan belum ada NKRI?
Kalo orang bermusuhan antara Aru Palakka Dengan Sultan Hasanuddin, mengapa Beliau La Tenritatta Aru Palakka setelah di Asingkan dan beliau sakit, sebelum meninggal Beliau minta di Makamkan di Gowa dekat ayah angkatnya (pamannya) Karaeng Pattingalloang bukan di Bone? karena setau saya kalau orang bermusuhan jangankan ketemu lewat depan rumahnya saya tdk mau, sedangkan beliau minta di makamkan di Gowa dekat kuburannya Sultan?
Trus kenapa Aru palakka menikahkan cucunya beliau dengan cucunya Sultan?
Kalo dianggap Aru palakka membawa Belanda Ke Gowa, tolong saudaraku yang ada di Gowa membuka Lontara, sdh ada perjanjian Benteng Panakukang 1660, sebelum perjanjian Bungaya 1667, itu kadang kita lupa? dan kenapa tidak pernah dibahas?
Dan kalo Gowa mau menguasai Bone Kenapa Karaeng Sumanna ditarik dari Bone dan yang memegang kekuasaan di sana Tobala?
Kalau dari kacamata saya bahwa inikan persoalan internal keluarga didalam istana kerajaan, dan kenapa kita semua harus di adu domba sesama orang To’dang?
kita semua tauji siapa itu Tau Ugi Siapa Itu Tau Mangkasara, kitaujikah sejarahnya?
COBAKI BERFIKIR SEMUA SAUDARA2KU BAIK YANG ADA DI BONE MAUPUN DI GOWA, SE’RE JAKI BULO2 REPPE……
Apapun keputusan yang diambil Beliau-Beliau waktu itu baik Sultan Maupun Latenritatta Aru Palakka sudah benar pada Zaman itu…………..
Tabe……….





